Kenapa ya, kita sering dilecehin orang. Walaupun kita selalu berusaha bersopan-santun dengan orang. Tapi dengan seenaknya aja melecehin kita. Kadang jengkel juga. Tapi tetap berusaha menahan diri. Bagi saya sendiri, cukup banyak kejadian buruk yang menyedihkan. Bayangin aja, saya sama istri pernah mau beli panci yang bagus di toko peralatan masak. Panci tebal, anti karat, permukaan mengkilap dan pasti harganya juga agak lumayan. Kami tanya ke penjaga toko “berapa harganya bang?”. Dia bilang sekian rupiah. Saya pun coba nawar “boleh kurang dikit bang?” dengan senyum ngejek si penjaga toko ini mengambil panci jelek, berkarat. tipis yang terbuat dari kaleng bekas berkata “kalo mau yang murah beli yang ini”. Spontan tekanan darah saya naek, hampir aja si penjaga toko ini saya bogem. Saya bilang ke istri saya “dek, ga usah beli apapun lagi di toko ini !”. Pemilik toko yang lagi ngitung uang kembalian pembeli di meja kasir bertanya “ada apa bang?” tampa ada jawaban sepatah kata pun kami keluar dari toko dengan perasaan marah, tidak jadi membeli apapun. Dilain waktu, istri saya mau beli ikan di pasar ikan. Udah sore, maklum pasar ikannya agak jauh dari rumah kami. Jadi kalo mau belanja meski tunggu saya pulang kerja dulu. Ikannya udah ga seger lagi. Mungkin karena udah lama di-es-kan. Sambil liat-liat.. kayaknya ga da yang masih seger alias bagus. Istri saya ke tempat penjual udang. Sambil promosi si penjual udang berkata “beli nih dek, udangnya masih bagus-bagus, murah lagi..” Istri saya tanya “berapa ne bang satu tumpuk?” penjual udang jawab “lima belas ribu dek, beli teruus, muraah-muraah..udah sore..” Istri saya tau, kalo harga udang ‘wat’ yang bagus aja disini biasanya cuma lima belas ribu di jual. Pa lagi ini cuma udang biasa, gak seger lagi dan udah ke-sore-an pasti bisa lebih murah. Dia pun nawar, “boleh kurang ga bang?” penjual udang jawab dengan nada tinggi “ini udah kurang, ne ku tambah lagi, ku tambah lagi” sambil pura-pura dengan menambah udang kecil satu-satu ekor. “gak ah bang mungkin laen kali aja..” si penjual dengan kasar berkata “emaang jatah makan telor si’nong’ ini”. Akhirnya kami pulang ke rumah dengan perasaan jengkel ga jadi beli ikan, dan benar-benar makan telor gantinya. Mungkin ini cuma dua kejadian yang sering terjadi pada seharian kehidupan kita. Masih sangaat banyak kejadian-kejadian lain yang tidak mungkin kita ceriatain disini. Saya yakin, semua kita sering ngalami yang namanya disepelekan atau dilecehkan. Saya bertanya kepada istri saya, “kenapa kita sering dilecehkan orang?” katanya karena penampilan kita apa adanya, keuangan kita pas-pasan, gaya bicara biasa aja, ga ada yang bisa kita pamerkan dan banggakan dst.. yang jelas, intinya, kita dilecehkan karena tidak ada tujuan suatu keuntungan yang bisa orang harapkan sama kita. Ketergantungan, kejayaan, bisnis, kekayaan dan yang lainnya. Apalagi kalo kita tidak mau ‘kong kali kong’ sama tujuan mereka, maka sering kita dianggap musuh yang harus dimusnahkan. Pada kondisi ini, segala kebaikan yang kita lakuin takkan nampak lagi bagi mereka. Karena ambisi dan sikap keegoan mereka.
Tidak ada tujuan suatu keuntungan yang bisa orang harapkan sama kita, bukan berarti kita tidak punya apa-apa.. tapi maksudnya lebih cenderung bahwa apa yang kita miliki tidak bisa dimamfaatkan untuk meraup keuntungan mereka saja. Artinya, kita tidak bisa diatur, dikendalikan, dan dimamfaatkan sesuai ambisi mereka. Nah, disaat inilah kita punya kepribadian yang kokoh, kepemimpinan dan harga diri. Sehingga apa yang bisa mereka lakukan ke kita hanyalah melecehkan atau menyepelekan. Tujuannya agar semangat diri kita menurun, kepribadian luluh dan harga diri terinjak, sehingga mereka dapat menyusupkan kembali senjata penguasaan pengendalian terhadap kita.
Ada beberapa tips yang bisa kita lakukan diantaranya ;
- Buatlah diri kita sesuai dengan pemikiran sehat kita;
- Selalu berusaha mengatakan hal-hal yang positif tentang keseharian dan kebiasaan kita, sehingga tidak timbul image negatif dalam pemikiran orang tentang diri kita;
- Selalu tutupi hal yang bersifat pribadi;
- Lakukan hal-hal yang sulit ditebak;
- Bersikap santai dan relaks terhadap tindakan yang menurut orang membuat kita jengkel atau susah, sehingga maksud buruk orang tidak berpengaruh bagi kita;
- Bisa sesekali bersikap marah terhadap tindakan orang yang melecehkan kita, karena sering orang melecehkan dan mempermainkan kita dengan anggapan bahwa kita tidak akan marah, berdiam diri, tidak bisa membantah atau membela diri, sehingga mereka bisa berbuat seenaknya;
- Selalu berusaha berbuat baik, sekalipun orang selalu menyakiti perasaanmu.
Suatu kata terakhir yang bisa saya sampaikan “Wahai yang baik, biarlah si jahat dimakan oleh kejahatannya sendiri”
Note:
Udang ‘wat’ = udang laut berukuran jumbo
Si’nong’ = panggilan untuk perempuan (kadang dalam bahasa kasar)
‘kong kali kong’ = kerjasama saling menguntungkan dengan niat jahat
