Ngapain sih saya kemari?
Setiap individu jika ditanya tentang hal ini, pasti mempunyai jawaban yang beragam. Walaupun ada jawaban dari serentetan jawaban yang sama. Nah, jawaban yang beragam inilah yang biasanya jawaban yang sebenarnya atau disebut “jawaban hati”. Tapi kenyataannya banyak sekali yang nggak berani mengungkapkannya. Kenapa ya..? Jawaban yang sebenarnya kadang membuat kita malu, jawaban yang sebenarnya dapat membatasi gerak, jawaban yang sebenarnya bisa merendahkan kita, jawaban yang sebenarnya dapat menampakkan bahwa diri kita tidak tulus dst. Dengan kata lain, jawaban yang sebenarnya dapat menumbuhkan imej negatif tentang kita dan apa yang kita lakukan di pikiran orang lain. Sehingga orang tersebut bisa menebak dengan mudah apa target akhir yang ingin kita capai. Yang memalukan adalah bahwa target akhir tersebut rata-rata bersifat negatif. Dengan diketahuinya tujuan negatif ini oleh orang lain, dapat mengakibatkan kita kurang semangat atau bahkan patah semangat dalam berusaha meraihnya, dan tidak ada dukungan lagi dari siapapun. Menyedihkan bukan..?Berdasarkan fakta inilah, menyebabkan kita takut akan akibat yang ditimbulkan olehnya. Langkah yang kita lakukan adalah berusaha menutupinya dengan berkata bohong. Topeng kebohongan dapat mempermudah gerak, mempercepat langkah, memuluskan jalan dan begitu mudah memakainya. Bahkan sangat sulit untuk dilepas dan ditinggalkan. Tapi, ingatkah kita, bahwa dengan memakai topeng ini telah mendidik mental kita untuk menjadi pengecut, bermuka dua, tidak bertanggungjawab. Bahkan lebih parah lagi terasa sudah tidak memiliki harga diri. Jika langkah ini kita terus kita biasakan dan tiap individu membiasakannya, maka akan berkembang menjadi sebuah komunitas yang hidup dalam kebohongan dan kepalsuan. Kegelapan telah begitu kuasa menutupi tiap celah cahaya kebenaran. Cahaya kebenaran lambat laun akan tampak redup, tidak memukau, semakin mengecil ditindih topeng kebohongan. Selalu saja digelapi oleh bayang-bayangan kepalsuan. Akankah cahaya kebenaran ini sirna..? setelah sirna dari permukaan, setelah didominasi oleh kenistaan. Adakah yang masih peduli...? Sadar akan hal ini, pastinya tidak ada diantara kita yang menginginkannya.. lantas apa sih yang bisa kita lakukan untuk mengindarinya..?
Salah satu langkah bijak yang bisa kita lakukan adalah dengan menetapkan dulu niat atau tujuan yang benar sebelum pekerjaan tersebut mulai kita lakukan. Tujuan yang benar adalah tujuan terbaik yang bersifat positif tentunya. Selanjutnya, dalam mengerjakan pekerjaan tersebut apabila tujuan sudah mulai goyah cendrung ke negatifnya, harus segera kita perbaiki lagi menuju tujuan utama yang telah kita tetapkan tadi. Dan yang terakhir, disaat pekerjaan tersebut telah selesai kita laksanakan dengan baik, jaga terus niat atau tujuan baik yang tadi. Maka seluruh apa yang kita laksanakan adalah suatu pekerjaan baik, penuh semangat, dengan niat baik dan bersifat tulus. Keuntungan besar yang kita dapatkan adalah kepuasan batin atas hasil kerja yang telah kita usahakan dengan benar dari permulaannya, prosesnya, sampai out put-nya. Inilah salah satu sukses yang dengannya dapat membentuk karakter diri yang kuat, pembekalan diri yang mantap, optimisme yang tinggi dan siap menghadapi event lain yang lebih bermakna untuk meraih sukses yang lainnya.
Akhir kata “Janganlah selalu benarkan hal biasa, tapi selalulah biasakan hal yang benar”
///////icn///////

